Friday, 19 August 2016

Ku cinta kau sampai mati!

Kamu tahu nggak? Kesedihan yang paling menyakitkan adalah ketika kau menyaksikan orang yg kau cintai menderita. 

Yah, ku sedih...

Ku sedih karna ayah sedang sakit. Biasanya kkita bercengkrama hingga malam, tertawa terbahak bersama hingga berburu diskon di mall bersama ayah. Aku sedih, 2 minggu lagi aku pulang ke jogja, dan kita belum sempat berburu diskonan itu yah. Ayah, cepat2 lah bangun. Aku tak sabar mau curhat sama ayah sampai puas.

Yah, ku takut...

Ku takut sama ibu. Ibu suka marah2 dan aku senang, ayah selalu membela aku didepan ibu. Ayah, cepat2lah bangun biar ayah bisa jadi pelindungku lagi di depan ibu.

Yah, ku malu...

Aku malu, kadang ibu masih perlakukan aku seperti anak kecil. Kadang ibu marahin aku didepan banyak org. Kadang juga ibu larang aku ini itu. Cuma ayah yg percaya anaknya udah besar. Cuma ayah yg bisa pasrahin semua keputusannya gimana aku, lalu kalo aku salah diomongin baik baik.

Yah, kurindu...

Aku rindu sekali ditelpon ayah. Bercanda lewat telpon dan sms, kurindu sekali ayah. Ayah, cepat2lah bisa bicara biar ayah cerita lagi masa2 ayah sekolah dulu. Meskipun ayah sudah cerita berkali kali, asal sama ayah aku pasti senang. Kurindu, tiap jengkal kehidupan ayah yg normal.

Yah, kuingin...

Aku ingin ayah datang saat aku wisuda. Agar ayah tak usah pusing2 lagi pikirkan aku, yah. Karena aku sudah sarjana.

Aku ingin ayah yg menjadi wali ku saat aku menikah. Ayah sehat ya, biar ayah punya banyak temen nanti, ada menantu laki2 dan ada mertua laki2. Ayah pasti senang.

Aku ingin ayah gendong anak2 ku. Aku ingin ayah bersikap sama kepada anak2ku kelak seperti ayah menyayangi cucu ayah dari kakak. Kutunggu kesembuhanmu yah.

Yah...

Entah sudah berapa puluh hari ayah sakit, terbaring tak berdaya di tempat tidur.

Tolong aku, Bangunlah. ayah pasti mengerti perasaanku saat ini. Hampa, kacau, sakit, dan takut semua jadi satu. Aku yakin, takdir Allah pasti baik buat ayah, apalagi ayah orang baik. Ayah kucinta kau sampai mati, yah!

Saturday, 2 January 2016

Menuju 62 bulan,1887 hari, 45168 jam, 2710080 menit, dan 162604800 detik.

           Bingung disini judulnya mau cerita, curhat, curcol, atau apa. Pokoknya disini aku mau mencurahkan hubungan aku yang serba ribet sama makhluk astral ganteng yang udah mau dapet gelar sarjana (Yee dilamar!). Namanya aku samarin yah, takut kalian pelet terus dia ninggalin aku, nanti aku sama siapa. Alaaaaay. wkwk

Kepadamu, manusia yang menemaniku di 2016 dan beribu tahun setelahnya

           Kepadamu, makhluk astral yang gila tidur. Semoga doa-doa yang kita tuliskan di belakang buku kuliah ku malam itu menjelma menjadi barisan kenyataan. Kamu dan aku sama-sama bahagia. Bukan sekedar mimpi dalam tidurmu yang panjang. 

           Kepadamu calon sarjanaku, ku akui bermodal ayam geprek cabe 15 tidak akan menjadikanmu meraih gelar cumlaude saat wisuda. Atau bahkan menjadi lancar berbicara ijab kabul saat bersalaman sama papah nanti. Tapi aku tau, kamu bisa membuat kedua orang tuaku enggan menolak saat kamu tiba dirumahku bersama kedua orangtuamu.

           Kepadamu penggila bakso dan sejenisnya, aku mengerti ketika banyak sekali hal sederhana yang kau sukai, aku meyakinkan diriku bahwa kamu juga bisa menyukaiku melebihi hal-hal yang sederhana itu, Iya kan?

           Kepadamu rambut kusut yang kusuka, dipikiranku kamu hanya ganteng saat rambutmu susah disisir, mukamu berjerawat, dan bajumu ala kadarnya. Aku suka kamu pakai baju pantai rombeng-rombeng. Karena aku tahu, mungkin hanya 0,5 persen peluang kamu jadi pusat perhatian. Kamu tahu sendiri aku pecandu cemburu yang ulung kan?

           Kepadamu laki-laki acuh dalam hubungan yang 5 hari lagi menuju 62 bulan,1887 hari, 45168 jam, 2710080 menit, dan 162604800 detik. Aku mungkin masih saja membuatmu ragu, dengan sifatku yang kadang seperti Arya Wiguna saat dikecewakan Farhat Abbas, ekspresi berlebihanku yang membuat kamu ilfeel karena mirip dengan Mpok Atik. Haha canda. Aku tau, sebenarnya, kamu tidak seacuh ini,ya kan? Kamu hanya bosan melihat tingkahku, malas dengan semua kemanjaanku.  Beberapa kali kamu menuntutku untuk menjadi dewasa. Sudah kucoba, dan ternyata sulit sekali. Ketahuilah hey laki-laki acuh, sampai saat ini aku masih berusaha mengembalikan kamu yang dulu.

           Kepadamu mimpi terbesarku. Saat sudah menikah nanti, sambil menyiram bunga di sore hari, aku menunggu kepulanganmu setiap hari, sudah pasti aku akan berlari dan memekik tenang mencium punggung tangan mu dan tersenyum lebar. Karena kamu, adalah rumahku di masa depan. Tenang, jauh dari hiruk pikuk zaman, tidak dikejar-kejar kekinian. 

            Kepadamu, pacar lima tahun rasa sebulan. Setiap bertemu kamu, setiap harinya aku selalu kikuk memulai percakapan. Ketahuilah, itu benar adanya, sayang. 


Love, Tia