Saturday, 2 January 2016

Menuju 62 bulan,1887 hari, 45168 jam, 2710080 menit, dan 162604800 detik.

           Bingung disini judulnya mau cerita, curhat, curcol, atau apa. Pokoknya disini aku mau mencurahkan hubungan aku yang serba ribet sama makhluk astral ganteng yang udah mau dapet gelar sarjana (Yee dilamar!). Namanya aku samarin yah, takut kalian pelet terus dia ninggalin aku, nanti aku sama siapa. Alaaaaay. wkwk

Kepadamu, manusia yang menemaniku di 2016 dan beribu tahun setelahnya

           Kepadamu, makhluk astral yang gila tidur. Semoga doa-doa yang kita tuliskan di belakang buku kuliah ku malam itu menjelma menjadi barisan kenyataan. Kamu dan aku sama-sama bahagia. Bukan sekedar mimpi dalam tidurmu yang panjang. 

           Kepadamu calon sarjanaku, ku akui bermodal ayam geprek cabe 15 tidak akan menjadikanmu meraih gelar cumlaude saat wisuda. Atau bahkan menjadi lancar berbicara ijab kabul saat bersalaman sama papah nanti. Tapi aku tau, kamu bisa membuat kedua orang tuaku enggan menolak saat kamu tiba dirumahku bersama kedua orangtuamu.

           Kepadamu penggila bakso dan sejenisnya, aku mengerti ketika banyak sekali hal sederhana yang kau sukai, aku meyakinkan diriku bahwa kamu juga bisa menyukaiku melebihi hal-hal yang sederhana itu, Iya kan?

           Kepadamu rambut kusut yang kusuka, dipikiranku kamu hanya ganteng saat rambutmu susah disisir, mukamu berjerawat, dan bajumu ala kadarnya. Aku suka kamu pakai baju pantai rombeng-rombeng. Karena aku tahu, mungkin hanya 0,5 persen peluang kamu jadi pusat perhatian. Kamu tahu sendiri aku pecandu cemburu yang ulung kan?

           Kepadamu laki-laki acuh dalam hubungan yang 5 hari lagi menuju 62 bulan,1887 hari, 45168 jam, 2710080 menit, dan 162604800 detik. Aku mungkin masih saja membuatmu ragu, dengan sifatku yang kadang seperti Arya Wiguna saat dikecewakan Farhat Abbas, ekspresi berlebihanku yang membuat kamu ilfeel karena mirip dengan Mpok Atik. Haha canda. Aku tau, sebenarnya, kamu tidak seacuh ini,ya kan? Kamu hanya bosan melihat tingkahku, malas dengan semua kemanjaanku.  Beberapa kali kamu menuntutku untuk menjadi dewasa. Sudah kucoba, dan ternyata sulit sekali. Ketahuilah hey laki-laki acuh, sampai saat ini aku masih berusaha mengembalikan kamu yang dulu.

           Kepadamu mimpi terbesarku. Saat sudah menikah nanti, sambil menyiram bunga di sore hari, aku menunggu kepulanganmu setiap hari, sudah pasti aku akan berlari dan memekik tenang mencium punggung tangan mu dan tersenyum lebar. Karena kamu, adalah rumahku di masa depan. Tenang, jauh dari hiruk pikuk zaman, tidak dikejar-kejar kekinian. 

            Kepadamu, pacar lima tahun rasa sebulan. Setiap bertemu kamu, setiap harinya aku selalu kikuk memulai percakapan. Ketahuilah, itu benar adanya, sayang. 


Love, Tia